Sabtu, 16 April 2016

Kumpulkan Kembali Kapas-Kapas Itu!

Berhati-hatilah menjaga lidah karena ketajamannya bisa melebihi pedang, bahkan bisa mematikan kehidupan seseorang sedangkan nyawa masih melekat di badan. Fitnah yang ditimbulkan lidah adalah lebih kejam dari pembunuhan, hal ini sudah sering kali kita dengar. Dan kultum yang aku ikuti di masjid Asy- Syifa bada’ sholat Dzuhur siang itu kembali menyadarkanku, bukan saja dasyatnya efek yang ditimbulkan fitnah, tapi juga betapa sulitnya menebus kesalahan, memulihkan nama baik dan hak-hak kehidupan mereka yang menjadi korban.

Adalah si Fulan, yang karena rasa iri dan dengkinya kepada seorang tokoh terkemuka, kemudian tega menfitnah sang tokoh. Dalam waktu sekejap, fitnah terhadap sang tokoh menyebar hingga ke pelosok desa, bersambung dari mulut warga yang satu ke warga yang lainnya. Terlebih orang yang menjadi korban fitnah ini adalah orang yang selama ini terpandang, memilki pengaruh di masyarakatnya.

Kabar fitnah yang menghebohkan akhirnya sampai ke telinga sang tokoh, termasuk siapa yang pertama kali menyebarkan berita tidak benar ini. Tidak terpancing emosi, sebaliknya sang tokoh tenang-tenang saja menanggapi berita miring tentang dirinya yang kini menjadi perbincangan hampir seluruh warga di setiap tempat dan pertemuan. Ia yakin bahwa kebenaran akan menemukan jalannya, siapa yang berdusta akan terbongkar kedoknya, hanya tinggal menunggu waktunya saja.

Jumat, 15 April 2016

Karena Sesal Tak Pernah Di Awal

Menyesal tak pernah di awal
Slalu saja hadirnya belakangan
Setelah terjadi barulah sadar
Ku menyesal….*


Sebuah lagu yang mengalun dari salah satu komputer di ruang kerjaku, membawa ingatanku pada kejadian yang dialami si Fulan, enam bulan yang lalu. Dibanding teman dan tetangga, dalam mencari pekerjaan si Fulan termasuk beruntung. Baru dua minggu merantau di Tangerang, Fulan langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan otomotif milik pengusaha asal Jepang. Namun sayang, belum genap dua bulan, si Fulan dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja justru ketika rasa betah mulai ia rasakan.

Berawal dari pertemuan tak sengaja dengan teman sekelasnya di salah satu pusat perbelanjaan, Fulan kemudian mendapatkan sebuah pekerjaan melalui bantuan sebuah yayasan penyalur tenaga kerja. Sesuai bidang keahlian yang ia miliki, Fulan ditempatkan di bagian produksi.

Perbuatan Khianat adalah Penyebab Kesulitan Hidup

Ada satu jenis lagi perbuatan yang menyebabkan kesulitan hidup di dunia bahkan di akhirat yaitu ; KHIANAT

Pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menyaksikan bagaimana orang-orang yang berkhianat  koruptor, manipulator (dsb)  dengan jabatan yang telah diamanahkan bangsa kepadanya di nodai oleh suatu perbuatan khianat terhadap tugas-tugasnya dan kekuasaan yang dipegangnya. Para pemegang amanah itu tidak menjalankan amanat sebaik-baiknya tetapi tragisnya dilain pihak mereka terus berusaha mempertahankan amanat yang diberikan kepadanya dengan berbagai cara, Walhasil ketika perbuatan khianat itu terbuka hijabnya yang selama ini tertutupi, maka tidak saja dirinya yang hancur karena malu, hilang martabat dan hartanya, hancur pula perasaan keluarga dan orang-orang disekelilingnya.

Allah berfirman :
“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad ) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui  (Al Anfaal : 27)

Cara Meningkatkan Iman Agar Senantiasa Kokoh

Sepanjang perjalanan hidup, setiap muslim pasti pernah mengalami pasang surut dalam hal keimanan, adakalanya ia begitu taat dalam melaksanakan amal sholeh, shalat berjamaahnya senantiasa terjaga, shaum senin kamis tak pernah ketinggalan, dan qiyamullaillnyapun senantiasa ia tegakkan disetiap malamnya.

Namun beriringnya waktu dan derasnya bisikan kemaksiatan, terkadang ibadah yang senantiasa ia kerjakan tersebut mulai mengendur, bahkan ada yang sampai pada taraf terpuruk dimana ia mulai meninggalkan satu persatu dan ini seburuk-buruknya keimanan. Karena itulah penting sekali bagi setiap muslim untuk menjaga keimanannya agar senantiasa kokoh.

Berbicara tentang keimanan, maka pengertian iman itu sendiri secara bahasa bermakna percaya, sedangkah secarah istilah, iman bermakna membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam bentuk perbuatan. Ketiga unsur iman ini harus dimiliki oleh seorang muslim dan baru dikatakan sebagai keimanan yang sempurna bila terkumpul ketiganya. Karena seseorang yang hanya mengimani di dalam hati saja tanpa dibuktikan dengan amal maka imannya tidaklah sempurna, seperti orang yang mengimani bahwa shalat lima waktu adalah hukumnya wajib namun ia tidak membuktikan keimanannya dengan tidak mau mengerjakan shalat maka menandakan imannya tidak sempurna, bahkan bisa menyebabkan batalnya keislamannya sehinga bisa menjatuhkannya kepada kekufuran.

Iman itu sendiri terkadang bisa naik dan terkadang bisa turun, hal ini senada dengan apa yang di khabarkan oleh Allah Azza wa Jalla.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). [al-Anfâl:2]

Kemudian Sahabat Abu ad-Dardâ` Uwaimir al-Anshâri Radhiyallahu anhu berkata:

الإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu bertambah dan berkurang

Pengertian Agama Islam

Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan dan disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala serta satu-satunya agama yang diakui dan diterima-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menerima agama selainnya, dari siapapun, dimanapun dan sampai kapanpun juga.


“Sesungguhnya Agama ( yang diridhai ) di sisi Allah hanyalah Islam “(QS.Ali-Imran :19)

Islam berarti penyerahan diri kepada Allah dengan beriman dan bertauhid kepadaNya serta mengikuti syariatNya yang dibawa oleh para rosulNya.

Syaykh Muhammad al-Tamīmiy menambahkan asas makna Islam ini menjadi 3 hal, yang diistilahkannya dengan tawhīd, ta`at dan barā`ah dari syirik, dimana dia berkata:

( اَلإِسْلاَمُ هُوَ اْلاِسْتِسْلاَمُ للهِ بِالتَّّْوْحِيْدِ وَ اْلاِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَ الْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ )

Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepadaNya dengan keta`atan serta membebaskan diri (bara`ah) dari syirik

Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan

Dalam tulisan terdahulu, kita telah membahas bahwa kepercayaan kepada satu Tuhan adalah sesuatu yang sangat logis/ masuk akal. Setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Tahap selanjutnya adalah: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus dan menjadi seorang Kristen. Namun pertanyaannya sekarang, Kristen yang mana?

Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi

Pertanyaan di atas menjadi penting  di zaman sekarang ini, mengingat bahwa dewasa ini ada begitu banyak tipe kekristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih dahulu tentang Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus, adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Maka, kerap kali kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:
  • Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
  • Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
  • Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
  • Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
  • Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.
Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Padahal, dalam pencarian kebenaran, seharusnya, fokus kita bukan kepada diri sendiri, tetapi kepada kebenaran, yang akhirnya mengarahkan kita kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus Kristus. Dengan kata lain,  kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 5 – Selesai)

Gereja Katolik, tidak pernah populer, tetapi selalu menarik

Di dunia yang dipenuhi kehidupan sekuler, dan banyak aliran agama bermunculan, kita melihat banyak orang mencari kebenaran yang lebih bersifat tetap dan tidak terbawa arus. Banyak dari mereka tidak pernah menyangka bahwa pencarian tersebut akan berakhir di Gereja Katolik.

Gereja Katolik memang tidak pernah populer, kita tidak akan jadi terkenal dengan menjadi orang Katolik yang setia. Namun betapapun sulit penerapan pengajaran Gereja Katolik karena itu akan menuntut perubahan hidup, banyak orang merasa tertarik pada Gereja. Mereka mendengarkan dengan hormat pengajaran Paus dan para uskup pembantunya, meskipun mereka mengakui bahwa diperlukan perjuangan untuk menerapkan kebenaran tersebut di dalam hidup sehari-hari.

Ketertarikan akan Gereja juga nampak pada sejarah Gereja Katolik yang menampilkan kehidupan para kudus. Siapapun akan mengakui bahwa pasti ada sesuatu yang istimewa dan ‘ilahi’ pada Gereja Katolik yang dapat menghasilkan orang-orang kudus, seperti Santo Agustinus, Santo Benediktus, Santo Franciscus Asisi, dan Ibu Teresa.

Di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan kota di manapun di dunia, kehadiran gereja Katolik juga memberi nuansa tersendiri. Orang yang bukan Katolik-pun bisa merasakan kehadiran “Sang Ilahi” yang berada di dalam bangunan gereja Katolik. Kehadiran Yesus Kristus dalam tabernakel kudus di dalam setiap bangunan gereja Katolik, juga menarik banyak perhatian orang, seperti halnya yang secara khusus terlihat dalam Gereja Basilika Santo Petrus di Roma, Basilika Perawan yang Dikandung Tak Bernoda di Lourdes, dan tentu, di bangunan gereja Katedral Jakarta.