Bukanlah rahasia umum jika kita membaca surat kabar mengenai
penutupan gedung ibadah, pembakaran gedung ibadah hingga pembunuhan
terhadap seorang tokoh agama yang baru-baru ini terjadi di Poso.
Mungkin beberapa golongan radikalisme agama merasa senang karena tujuannya sudah tercapai, sedangkan di lain pihak beberapa orang merintih sedih akibat perbuatan keji ini. Kadang saya berpikir, apakah memang di dalam semua ajaran agama mengajarkan demikian? Apa yang dimaksud dengan ajaran cinta kasih di dalam ajaran agama? Apakah cinta kasih itu bukan sifatnya universal sehingga orang di luar agamanya patut dibunuh, dibenci dengan atas nama Tuhan? Apakah agama begitu kejamnya mengajarkan demikian kepada umatnya? Apakah memang Mohammad, Yesus Kristus, Sidharta Gautama mengajarkan perbuatan demikian?
Sebuah cerita singkat di Irak yang berjudul “Membakar Sorga”, juga bercerita mengenai keinginan seorang pemuda yang ingin membakar sorga lantaran melihat orang-orang di sekitarnya saling membunuh demi sebuah Sorga. Cerita ini juga mempertanyakan mengenai sebenarnya apa sih yang diajarkan oleh agama sesungguhnya?
Patutlah dihargai bahwa beberapa tokoh agama menyiarkan pentingnya pandangan tentang pluralisme. Namun sedikit sekali orang yang memahami mengenai pluralisme dengan baik, padahal pandangan ini benar-benar sederhana dan bertujuan sangat baik. Tidaklah heran jika Pluralisme di Indonesia dipandang sebagai sebuah pandangan yang haram oleh segolongan orang tertentu.
Saya memiliki pandangan sendiri mengenai Pluralisme. Pluralisme harus disikapi bukan untuk hubungan ke dalam tetapi untuk hubungan ke luar. Mungkin istilah lebih tepatnya adalah toleransi antar umat beragama. Seperti apakah yang dimaksud?
Saya memberi contoh sebagai berikut :
Stevanus beragama Kristen.
Ahmad beragama Islam.
Ahong beragama Budha.
(contoh ini juga berlaku bagi agama-agama yang lain yang belum tercantum di sini karena keterbatasan tempat)
Seharusnya :
Pada saat hari raya mereka bertemu dengan yang lain :
Ahmad dan Ahong mengucapkan kepada Stevanus : “Selamat hari Natal”.
Ahong dan Stevanus mengucapkan kepada Ahmad : “Selamat Idul Fitri”.
Ahmad dan Stevanus mengucapkan kepada Ahong : “Selamat Hari Raya Waisak”.
Tanpa harus merasa tidak beriman dan mereka tetap berteman.
Tetapi kenyataannya :
Beberapa golongan mengharamkan ucapan selamat ini.
Seharusnya :
Stevanus tetap hari Minggu ke gereja, Ahmad setiap hari Jumat beribadah di Mesjid, Ahong tetap ke Wihara. Mereka bebas beribadah masing-masing dengan kepercayaannya dengan caranya masing-masing tanpa memaksakan kehendaknya masing-masing tetapi mereka tetap berteman dan saling menghargai.
Tetapi kenyataannya :
Rumah ibadah dihancurkan, umatnya meratap, tangisan di mana-mana. Hilanglah tempat untuk beribadah dan yang tersisa hanyalah sunyi bertanda duka.
Seharusnya :
Mohammad mengajarkan cinta kasih, Sidharta Gautama mengajarkan cinta kasih, Tuhan Yesus mengajarkan cinta kasih. Ahmad, Ahong dan Stevanus saling mengasihi satu dengan yang lain, berbagi satu dengan yang lain, tolong menolong tanpa memandang Iman dan Kepercayaannya.
Tetapi kenyataannya :
Cinta kasih yang ditafsirkan adalah eksklusif untuk golongannya. Di luar itu hanyalah rasa benci untuk para kafir.
Seharusnya :
Ketika mereka akan pergi makan di restoran, untuk menghormati Ahmad yang bersama dengan mereka maka Ahong dan Stevanus memilih restoran yang halal supaya mereka bisa makan bersama. Meskipun Ahong dan Stevanus menyukai makanan babi. Ataupun sebaliknya
Tetapi kenyataannya :
Beberapa pihak memaksakan kehendaknya tanpa harus menghargai dan mengerti aturan-aturan agama yang masing-masing dianutnya itu.
Jika kita membayangkan apa yang terjadi seharusnya, sungguh alangkah indahnya hidup dalam kebersamaan. Pada saat hari raya tidak terjadi ekslusifitas, saling menghormati satu dengan yang lain.
Kita harus saling menghormati karena kita adalah manusia ciptaanNya dan kita tetap masing-masing memegang Iman dan Kepercayaan kita, tanpa kita harus mengorbankan Iman dan Kepercayaan kita dan prinsip yang kita anut. inilah yang dimaksud saya mengenai pluralisme.
Tetapi kenyataannya sekarang aturan jaman purba pun masih tetap saja dipakai, meskipun jaman sudah modern. Mungkin teori Karl Marx ada betulnya juga bahwa “Agama adalah racun Negara”, tetapi sungguh ini merupakan tantangan kita sebagai umat beragama untuk membuktikan bahwa teori Karl Marx itu salah.
Lalu dengan apa kita membuktikannya? Jawabannya adalah toleransi antar umat beragama. Sebenarnya jika kita mau melakukannya adalah perkara sangat mudah untuk dilakukan tetapi kenyataannya masih ada saja orang yang sulit melakukannya? Padahal sejak Sekolah Dasar kita sudah diajari mengenai hal ini. Masa urusan begini saja kita kalah dengan anak SD?. (Sekretaris RW.13)
Sumber : http://www.johanes.org/2006/11/toleransi-dan-pluralisme/
Mungkin beberapa golongan radikalisme agama merasa senang karena tujuannya sudah tercapai, sedangkan di lain pihak beberapa orang merintih sedih akibat perbuatan keji ini. Kadang saya berpikir, apakah memang di dalam semua ajaran agama mengajarkan demikian? Apa yang dimaksud dengan ajaran cinta kasih di dalam ajaran agama? Apakah cinta kasih itu bukan sifatnya universal sehingga orang di luar agamanya patut dibunuh, dibenci dengan atas nama Tuhan? Apakah agama begitu kejamnya mengajarkan demikian kepada umatnya? Apakah memang Mohammad, Yesus Kristus, Sidharta Gautama mengajarkan perbuatan demikian?
Sebuah cerita singkat di Irak yang berjudul “Membakar Sorga”, juga bercerita mengenai keinginan seorang pemuda yang ingin membakar sorga lantaran melihat orang-orang di sekitarnya saling membunuh demi sebuah Sorga. Cerita ini juga mempertanyakan mengenai sebenarnya apa sih yang diajarkan oleh agama sesungguhnya?
Patutlah dihargai bahwa beberapa tokoh agama menyiarkan pentingnya pandangan tentang pluralisme. Namun sedikit sekali orang yang memahami mengenai pluralisme dengan baik, padahal pandangan ini benar-benar sederhana dan bertujuan sangat baik. Tidaklah heran jika Pluralisme di Indonesia dipandang sebagai sebuah pandangan yang haram oleh segolongan orang tertentu.
Saya memiliki pandangan sendiri mengenai Pluralisme. Pluralisme harus disikapi bukan untuk hubungan ke dalam tetapi untuk hubungan ke luar. Mungkin istilah lebih tepatnya adalah toleransi antar umat beragama. Seperti apakah yang dimaksud?
Saya memberi contoh sebagai berikut :
Stevanus beragama Kristen.
Ahmad beragama Islam.
Ahong beragama Budha.
(contoh ini juga berlaku bagi agama-agama yang lain yang belum tercantum di sini karena keterbatasan tempat)
Seharusnya :
Pada saat hari raya mereka bertemu dengan yang lain :
Ahmad dan Ahong mengucapkan kepada Stevanus : “Selamat hari Natal”.
Ahong dan Stevanus mengucapkan kepada Ahmad : “Selamat Idul Fitri”.
Ahmad dan Stevanus mengucapkan kepada Ahong : “Selamat Hari Raya Waisak”.
Tanpa harus merasa tidak beriman dan mereka tetap berteman.
Tetapi kenyataannya :
Beberapa golongan mengharamkan ucapan selamat ini.
Seharusnya :
Stevanus tetap hari Minggu ke gereja, Ahmad setiap hari Jumat beribadah di Mesjid, Ahong tetap ke Wihara. Mereka bebas beribadah masing-masing dengan kepercayaannya dengan caranya masing-masing tanpa memaksakan kehendaknya masing-masing tetapi mereka tetap berteman dan saling menghargai.
Tetapi kenyataannya :
Rumah ibadah dihancurkan, umatnya meratap, tangisan di mana-mana. Hilanglah tempat untuk beribadah dan yang tersisa hanyalah sunyi bertanda duka.
Seharusnya :
Mohammad mengajarkan cinta kasih, Sidharta Gautama mengajarkan cinta kasih, Tuhan Yesus mengajarkan cinta kasih. Ahmad, Ahong dan Stevanus saling mengasihi satu dengan yang lain, berbagi satu dengan yang lain, tolong menolong tanpa memandang Iman dan Kepercayaannya.
Tetapi kenyataannya :
Cinta kasih yang ditafsirkan adalah eksklusif untuk golongannya. Di luar itu hanyalah rasa benci untuk para kafir.
Seharusnya :
Ketika mereka akan pergi makan di restoran, untuk menghormati Ahmad yang bersama dengan mereka maka Ahong dan Stevanus memilih restoran yang halal supaya mereka bisa makan bersama. Meskipun Ahong dan Stevanus menyukai makanan babi. Ataupun sebaliknya
Tetapi kenyataannya :
Beberapa pihak memaksakan kehendaknya tanpa harus menghargai dan mengerti aturan-aturan agama yang masing-masing dianutnya itu.
Jika kita membayangkan apa yang terjadi seharusnya, sungguh alangkah indahnya hidup dalam kebersamaan. Pada saat hari raya tidak terjadi ekslusifitas, saling menghormati satu dengan yang lain.
Kita harus saling menghormati karena kita adalah manusia ciptaanNya dan kita tetap masing-masing memegang Iman dan Kepercayaan kita, tanpa kita harus mengorbankan Iman dan Kepercayaan kita dan prinsip yang kita anut. inilah yang dimaksud saya mengenai pluralisme.
Tetapi kenyataannya sekarang aturan jaman purba pun masih tetap saja dipakai, meskipun jaman sudah modern. Mungkin teori Karl Marx ada betulnya juga bahwa “Agama adalah racun Negara”, tetapi sungguh ini merupakan tantangan kita sebagai umat beragama untuk membuktikan bahwa teori Karl Marx itu salah.
Lalu dengan apa kita membuktikannya? Jawabannya adalah toleransi antar umat beragama. Sebenarnya jika kita mau melakukannya adalah perkara sangat mudah untuk dilakukan tetapi kenyataannya masih ada saja orang yang sulit melakukannya? Padahal sejak Sekolah Dasar kita sudah diajari mengenai hal ini. Masa urusan begini saja kita kalah dengan anak SD?. (Sekretaris RW.13)
Sumber : http://www.johanes.org/2006/11/toleransi-dan-pluralisme/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar