Jumat, 15 April 2016

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 5 – Selesai)

Gereja Katolik, tidak pernah populer, tetapi selalu menarik

Di dunia yang dipenuhi kehidupan sekuler, dan banyak aliran agama bermunculan, kita melihat banyak orang mencari kebenaran yang lebih bersifat tetap dan tidak terbawa arus. Banyak dari mereka tidak pernah menyangka bahwa pencarian tersebut akan berakhir di Gereja Katolik.

Gereja Katolik memang tidak pernah populer, kita tidak akan jadi terkenal dengan menjadi orang Katolik yang setia. Namun betapapun sulit penerapan pengajaran Gereja Katolik karena itu akan menuntut perubahan hidup, banyak orang merasa tertarik pada Gereja. Mereka mendengarkan dengan hormat pengajaran Paus dan para uskup pembantunya, meskipun mereka mengakui bahwa diperlukan perjuangan untuk menerapkan kebenaran tersebut di dalam hidup sehari-hari.

Ketertarikan akan Gereja juga nampak pada sejarah Gereja Katolik yang menampilkan kehidupan para kudus. Siapapun akan mengakui bahwa pasti ada sesuatu yang istimewa dan ‘ilahi’ pada Gereja Katolik yang dapat menghasilkan orang-orang kudus, seperti Santo Agustinus, Santo Benediktus, Santo Franciscus Asisi, dan Ibu Teresa.

Di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan kota di manapun di dunia, kehadiran gereja Katolik juga memberi nuansa tersendiri. Orang yang bukan Katolik-pun bisa merasakan kehadiran “Sang Ilahi” yang berada di dalam bangunan gereja Katolik. Kehadiran Yesus Kristus dalam tabernakel kudus di dalam setiap bangunan gereja Katolik, juga menarik banyak perhatian orang, seperti halnya yang secara khusus terlihat dalam Gereja Basilika Santo Petrus di Roma, Basilika Perawan yang Dikandung Tak Bernoda di Lourdes, dan tentu, di bangunan gereja Katedral Jakarta.


Banyak pengikut Kristus telah ‘kembali ke Roma’

Dewasa ini, walaupun mungkin kita mendapati banyak orang Katolik meninggalkan Gereja, masuk agama lain atau bahkan menjadi tidak beragama, kita juga mendapati kejadian yang sebaliknya: banyak orang dari agama lain, terutama dari gereja lain yang kembali ke dalam kesatuan dengan Gereja Katolik. Banyak dari mereka malah pernah menjabat sebagai pastor/ pendeta. Contoh yang mungkin sudah banyak dikenal misalnya Scott Hahn, Steven Ray, Marcus Grodi, dll. Alasannya adalah karena mereka menemukan dasar kebenaran yang teguh di dalam Gereja Katolik, sesuatu yang seharusnya menjadi alasan kita semua menjadi Katolik.

Pengetahuan akan kenyataan ini tidak boleh menjadikan kita tinggi hati, seolah-olah kita lebih baik daripada mereka yang berasal dari gereja lain, tetapi harusnya membuat kita memeriksa diri dan mau dengan rendah hati mengakui jika kita belum dengan sungguh-sungguh melakukan bagian kita sebagai orang-orang yang dipercaya oleh Tuhan untuk menerima karunia ‘kekayaan’ iman ini. Jika kita tahu bahwa iman Katolik ini sungguh indah dan lengkap, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri, sudahkah aku menjalankan bagianku?

Sudahkah aku mengenal dengan baik karunia iman yang Tuhan percayakan kepadaku? Sebab, “setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak dituntut” (Luk 12:48). Namun, tentu suatu pengharapan bagi kita untuk selalu menjalankan bagian kita, karena jika Allah mendapati kita menjalankan tanggung jawab kita, Ia akan memasukkan kita pada bilangan hamba-hambaNya yang setia (Luk 12:43-46).

Tugas-tugas kita sebagai orang Katolik

Pelajarilah iman Katolik dengan sungguh-sungguh.

Bagai pepatah, ‘Tak kenal maka tak sayang’, maka kita harus mengenal dan mempelajari iman kita, agar dapat menjadikan iman kita ini bagian dari hidup, dan dapat kita bagikan kepada orang lain. Walaupun mempelajari iman Katolik membutuhkan banyak waktu, mengingat banyaknya sumber yang harus dipelajari, -seperti dari kitab suci, dokumen-dokumen Gereja, tulisan para Bapa Gereja dan Para Kudus, dll – namun ini merupakan hal yang sangat berguna dan tidak dapat diukur manfaatnya bagi keselamatan jiwa kita. Suatu kenyataan yang harusnya mendorong kita adalah bagaimana saudara-saudari kita dari agama Kristen lain yang justru kembali ke pangkuan Gereja Katolik setelah mempelajari ‘kekayaan iman’ tersebut. Padahal kita sendiri yang Katolik belum tentu mengetahui dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Mempelajari iman Katolik bukan dimaksudkan hanya agar kita mengetahui ‘sebatas kepala dan tidak turun ke hati’. Sebab jika demikian kita akan mirip seperti orang Farisi yang rajin mempelajari Kitab suci, tetapi tidak menjiwai dan menerapkannya di dalam hidup. Mempelajari iman di sini berarti mendekati kebenaran dengan iman dan akal budi (faith and reason)[1] dan dengan demikian, mengikuti Firman Tuhan sendiri yang mengatakan “…siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat…” (1 Pet 3:15). Jika kita kurang memahami iman dan pengharapan kita, tentu sulitlah bagi kita untuk memberi pertanggunggan jawab tentang iman kita jika ada yang bertanya pada kita.

Jadi mempelajari iman kita adalah suatu bentuk kerendahan hati, yang dimulai dari sikap ketaatan, menerima pernyataan wahyu Allah yang dipercayakan oleh Yesus Kristus kepada Gereja-Nya. Jika ada pengajaran yang belum kita mengerti, kita mohon karunia Roh Kudus untuk membimbing kita, namun kita harus percaya bahwa Roh Kudus itu telah lebih dahulu bekerja pada para Rasul dan kini terus bekerja di dalam para pengganti mereka, sehingga dengan kerendahan hati kita harus menerima sepenuhnya pengajaran Gereja.

Dengan sikap ini, tentulah pada waktuNya, Tuhan akan membantu kita memahami pengajaran tersebut.

Hiduplah sesuai dengan iman Katolik.

Ingatlah bahwa iman Katolik adalah sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya urusan di gereja seminggu sekali. Hidup sesuai dengan iman Katolik inilah yang dimaksud dengan hidup kudus yang kita laksanakan di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan di mana saja. Dalam pelaksanaannya mungkin saja kita akan menghadapi tantangan, cemooh, atau bahkan kehilangan teman. Dalam hal ini ingatlah apa yang dikatakan Yesus untuk mereka yang dianiaya karena Dia, “Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga” (Mat 5:12).

Hidup sesuai dengan iman Katolik adalah hidup dalam kekudusan (lihat artikel: Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus). Ini memang perjuangan bagi setiap kita. Iman kita harus selalu membawa perubahan diri kita ke arah yang lebih baik. Kita harus punya semangat seperti Rasul Paulus yang mengajarkan agar kita senantiasa taat dan mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar (lih. Fil 2:12). Takut di sini maksudnya adalah hormat (‘reverence and awe’) yang menggambarkan kasih kita sebagai anak-anak Allah untuk tidak melawan Allah Bapa kita,[2] baik dengan perkataan ataupun perbuatan. Hormat kepada Allah Bapa juga disertai dengan hormat kepada Yesus PuteraNya dan Gereja yang didirikanNya oleh kuasa Roh Kudus.

Sebarkanlah iman Katolik-mu.

Yesus menginginkan kita untuk menyebarkan kasihNya kepada seluruh dunia, sehingga dunia dapat dibawa kepada kebenaranNya, sebab Kristuslah “Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). Jadi menyebarkan iman bukan hanya menjadi tanggungjawab para uskup, imam dan religius lainnya, tetapi menjadi tugas kita semua. Penyebaran iman ini adalah pertama-tama melalui teladan hidup dan bukan hanya dengan kata-kata.

Ingatlah bahwa sebelum naik ke surga Yesus berkata, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan ajarkanlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (Mat 28:19-20). Pada hari Pentakosta, kita melihat bagaimana Roh Kudus berkarya di atas para Rasul sehingga mereka dapat bersaksi tentang Yesus dengan berani, sampai akhirnya berita Injil dapat tersebar ke seluruh bumi. Roh Kudus yang sama itu berada di Gereja Katolik, yang juga berarti tinggal di dalam hati kita, anggota-anggotanya.[3] Komuni kudus yang kita terima hendaknya menjadikan kita pembawa misi Kristus. Mari kita bagikan rahmat persekutuan dengan Tuhan ini kepada orang-orang lain, sehingga mereka-pun dapat mengenal dan mengasihi Allah.

Jadi ingatlah akan ketiga hal ini:

Pertama, kenali imanmu, sayangilah Tuhan dan Gerejamu, kedua, hiduplah sesuai dengan imanmu dan ketiga, sebarkanlah imanmu.

Semoga Tuhan yang Maha Pengasih memberkati kita dengan kuasa Roh KudusNya untuk menjadikan kita pembawa Kabar Gembira, mulai dari seisi rumah kita, sampai ke ujung dunia, agar dimuliakanlah nama Tuhan di seluruh bumi!

[1] Di dalam pembukaan surat ensiklikal Paus Yohanes Paulus II, yang berjudul Fides et Ratio (Faith and Reason), ia berseru, “Iman dan akal budi adalah seperti dua sayap yang mengangkat roh manusia untuk mencapai kontemplasi kebenaran; dan Tuhan telah menempatkan di dalam hati manusia keinginan untuk mengetahui kebenaran- yaitu untuk mengenal dirinya sendiri- sehingga dengan mengenal dan mengasihi Allah- semua orang, pria dan wanita -dapat juga sampai pada kepenuhan kebenaran tentang diri mereka sendiri (bdk Kel 33:18; Mzm 27:8-9; 63:2-3; Yoh 14:8; 1Yoh 3:2). “Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth; and God has placed in the human heart a desire to know the truth- in a word, to know himself – so that, by knowing and loving God, men and women may also come to the fullness of truth about themselves (cf. Ex 33:18; Ps 27:8-9; 63:2-3; Jn 14:8; 1Jn 3:2)
[2] Lihat Dom Bernard Orchard M.A, A Catholic Commentary on Holy Scripture, (Thomas Nelsom and Sons, New York, 1951) p. 1130, ‘with fear and trembling’, a phrase implying reverence and awe, as again in 2Cor 7:15; Eph 6:5. …. It (is) a filial dread of offending God.
[3] Lihat Lumen Gentium 4, “Roh itu tinggal dalam Gereja dan dalam hati umat beriman bagaikan dalam kenisah (lih 1Kor 3:16; 6:19).”

Tuhan memberkati. (Sekretaris RW.13)

Sumber : http://www.katolisitas.org/gereja-tonggak-kebenaran-dan-tanda-kasih-tuhan-bagian-ke-5/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar