Jumat, 15 April 2016

Pemimpin Islami Yang Berjiwa Pluralis

Terdiri dari masyarakat yang majemuk memang menjadi fenomena tersendiri yang unik yang mesti dihadapi suatu negara. Tidak jarang akibat dari keanekaragaman itulah perpecahan tidak jarang terjadi antara golongan masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain yang notabene mereka adalah masih berada dalam ruang lingkup dan berstatus warga negara yang sama. Civil War yang terjadi di Amerika Serikat dan China pada masa lalu ataupun kejadian-kejadian perang antar suku di negara-negara Afrika yang masih sering terjadi sampai dengan saat ini menjadi sebagian kecil contoh yang ada dimana masih banyak lagi kejadian-kejadian yang lain yang memberi bukti bahwa sangat sulit memang mengatur masyarakat di suatu negara yang majemuk dimana berasal dari latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Indonesia merupakan negara dimana penduduknya terdiri dari masyarakat yang sangat majemuk dimana berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya dan bahasa yang beraneka ragam termasuk agama. Di satu sisi, Indonesia juga merupakan negara dimana umat muslim menempati posisi sebagai kaum mayoritas dan jumlahnya paling banyak dibanding penganut agama yang lain. Jumlah mayoritas suatu golongan yang dikelilingi keanekaragaman golongan minoritas yang lain itulah yang kadang justru menjadi permasalahan klasik yang sangat rumit yang terjadi di Indonesia detik ini. Tidak tercatat lagi telah banyak gesekan dengan latar belakang perang antar suku ataupun agama yang terjadi di Indonesia dari sejak zaman awal kemerdekaan sampai dengan saat ini. Kesadaran akan jiwa nasionalis yang ada pun tanpa kita sadari hanya sekedar semboyan tanpa ada implementasi yang jelas. Semangat mengesampingkan perbedaan hanya menjadi “bahan pelajaran” yang cuma kita terima di Sekolah Dasar dan ketika tumbuh dewasa maka yang terjadi adalah keegoisan masing-masing golongan bahwa golongan mereka lah yang lebih unggul dari golongan lain dan itulah yang terjadi di Indonesia dan lebih parah lagi diajarkan oleh orang-orang yang memiliki notabene memiliki tingkat intelektual yang lebih baik dibanding yang lain dan masyarakat meyakini bahwa mereka merupakan individu yang pantas untuk dijadikan panutan



Memaksakan kehendak untuk menerapkan suatu ajaran agama tertentu oleh suatu golongan mayoritas .kepada golongan yang lain merupakan wacana-wacana yang sering kita dengar dan tentu saja hal itu hanya akan mendapat tantangan di pihak minoritas sehingga yang terjadi adalah perpecahan. Untuk itulah dibutuhkan peran seorang pemimpin yang dapat diandalkan dalam memimpin masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Pentingnya peran seorang pemimpin tersebut  juga ditandai bahwa pemimpin haruslah orang yang sanggup mewakili dan pemersatu serta menjadi panutan bukan hanya panutan bagi satu golongan dimana pemimpin tersebut berasal tetapi juga panutan bagi seluruh golongan yang ada dan terlebih lagi hal itu sangat penting di lingkungan masyarakat yang beraneka ragam.

Pemimpin yang cenderung taat tetapi terlalu fanatik terhadap suatu golongan tertentu hanya akan membawa perpecahan di dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia. Disatu sisi dia menjadi panutan bagi golongan tertentu tetapi di sisi yang lain menjadi figur yang tidak layak menjadi contoh bagi golongan lain yang memiliki keyakinan dan paham yang berbeda. Pemimpin seperti ini juga hanya akan membuat masyarakat saling tidak toleran dan secara tidak langsung menghapus jiwa nasionalis dan semangat kesatuan sebagai satu bangsa dalam  masyarakat.

Menjadi negara dengan populasi umat Islam terbesar di dunia tentu sangat diharapkan bahwa pemimpin negara kita adalah seseorang yang relijius dan taat yang kepribadian dan prilakunya layak menjadi contoh bagi umat muslim di negeri ini. Tetapi di satu sisi, pemimpin tersebut juga haruslah orang yang cukup toleran, moderat dan bersikap pluralis terhadap masyarakat minoritas yang lain karena begitu beragamnya masyarakat di negara ini, dengan begitu maka diharapkan pemimpin tersebut memiliki kharisma yang membuat masyarakat di segala komponen dan golongan segan untuk menjatuhkan kredibilitasnya dan dihormati tidak hanya dari golongan pemimpin itu berasal tetapi juga seluruh golongan yang ada di negara ini melewati batas-batas suku, agama, ataupun ras sehingga dengan begitu pemimpin tersebut telah berhasil menjadi wadah pemersatu bangsa dan diharapkan semangat-semangat eksklusifisme golongan dalam masyarakat akan memudar dan berganti menjadi jiwa kebangsaan sebagai satu kesatuan dan jiwa nasionalis dapat tumbuh sebagai modal dasar kemajuan negara. (Sekretaris RW.13)

Sumber : https://disinisadat.wordpress.com/2012/06/06/pemimpin-islami-yang-berjiwa-pluralis/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar