Jumat, 15 April 2016

Bersama Menyebarluaskan Paradigma Toleransi


Hari ini saya membaca tulisan yang sangat edukatif tetapi juga sangat persis menggambarkan situasi intoleransi yang cukup memprihatinkan di negeri ini (baca http://sierohanirw13bhccibiru.blogspot.co.id/2016/04/ya-ampun-anak-sd-pun-bermain-isu-sara.html).

Membaca tulisan tersebut, saya jadi terdorong untuk menulis mengenai hal ini. Saya memiliki dua orang putra (9 tahun dan 5 tahun). Tidak satu dua kali, ketika pulang kerja, mereka menghambur ke arah saya dengan wajah sedih. 

Di lingkungan tempat kami tinggal, saat bermain bersama anak-anak seusianya, anak-anak saya sering kali diejek-ejek dengan kata-kata yang tidak pantas. Mereka diejek dan dikatai karena keyakinan kami berbeda dengan mereka. 

Sebagai seorang ayah, seperti kebanyakan dari Anda tentunya, hati saya miris. Tetapi, saya berupaya sedapat mungkin mengajarkan mereka untuk mengabaikan dan tidak mencontohi hal-hal itu. Suka atau tidak suka, kita tidak dapat menghindari fakta bahwa ada orang-orang tua yang memang menanamkan kebencian terhadap mereka yang tidak sekeyakinan dengannya kepada anak-anak mereka. 



Saya ingat persis, suatu ketika bertepatan dengan hari libur. Kami sekeluarga membersihkan rerumputan di halaman rumah kami. Di tetangga sebelah, sangat jelas terdengar seorang ibu yang berujar demikian: "Orang K****n itu anjing. Makanannya b**i dan a***ng." 

Tentu, pengalaman ini tidak mewakili pengalaman semua orang. Maksud saya, fakta seperti itu ada. Dan tidak heran, bahkan anak-anak SD pun (seperti yang dituliskan dalam tulisan yang saya rujuk di atas) sudah sedemikian terbiasa dengan hal itu. 

Hal itu tampaknya merupakan buah dari edukasi yang buruk. Edukasi yang merusak. Edukasi yang menggerogoti nilai-nilai keberagaman negeri ini. 

Sebenarnya, toleransi itu apa sih? Toleransi, sederhananya, berarti paham bahwa semua orang berhak percaya atau meyakini pandangan apa pun, terlepas dari kita setuju atau tidak setuju dengannya. Definisi ini menggarisbawahi satu hal penting yang perlu ditegaskan. 

Toleransi itu ditujukan kepada orang, bukan pandangan/keyakinan. Kita harus memperlakukan siap pun dengan sikap hormat yang sama seperti yang kita harapkan orang lain lakukan terhadap kita, terlepas dari kita sekeyakinan atau tidak dengan orang tersebut. 

Tidak menyetujui keyakinan seseorang adalah satu hal, tetapi adalah hal lain untuk melecehkan atau menghina seseorang karena keyakinannya tidak kita setujui. Kita berhak untuk tidak setuju terhadap keyakinan-keyakinan yang berbeda tanpa harus melecehkan atau menghina orangnya. 

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menarik perhatian Anda kepada kata-kata dari Stephen R. Covey. Covey menjelaskan bahwa "paradigma" berasal dari kata bahasa Yunani, paradeigma, yang digunakan untuk menyebut "persepsi, asumsi, teori, kerangka, acuan, atau 'kaca mata' yang Anda gunakan untuk memandang dunia" (The 8th Habit, 31). Lalu, ia melanjutkan, Apabila Anda ingin membuat perubahan dan perbaikan kecil-kecilan, sedikit demi sedikit, lakukan sesuatu pada tataran praktik, tingkah laku, dan sikap. Tetapi, bila Anda ingin membuat perbaikan besar yang amat berarti, lakukan sesuatu pada paradigma (The 8th Habit, 31).

Precisely! Saya percaya Covey benar. Jika kita ingin menikmati suasana aman, damai, ada sikap saling menghargai, dsb., di negeri ini, kita memerlukan paradigma tolorensi terhadap keberagaman keyakinan di negeri ini. 

Itu tidak berarti Anda dan saya tidak boleh berbeda. Justru kita berbeda maka harus ada toleransi. Jika tidak ada perbedaan, maka toleransi tidak diperlukan sama sekali. 

Mari kita bersama menyebarluaskan paradigma toleransi antar-keyakinan demi Indonesia yang aman, damai, dan tenteram. Omong-omong, Denmark dinobatkan menjadi The Happiest Country 2013. Indonesia kapan ya? hehehe...... (Sekretaris RW.13)


Sumber : http://www.kompasiana.com/nararya1979/bersama-menyebarluaskan-paradigma-toleransi_5520c2cd8133112f7419fb60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar