Saya sudah menulis sebuah artikel yang berisi ajakan untuk menyebarluaskan paradigma toleransi. Di dalamnya saya sudah membahas mengenai definisi dari toleransi (baca di sini). Namun, adalah perlu untuk sekali lagi mencantumkan definisi itu di sini. Setelah itu, saya akan mengelaborasi definisi itu dalam dua kategori: via positiva (toleransi adalah...) dan via negativa (toleransi bukanlah...).
Toleransi : Paham bahwa setiap orang sah untuk menganut keyakinan atau pandangan tertentu, terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan atau pandangan yang bersangkutan.
Berdasarkan definisi di atas, saya akan mengemukakan elaborasinya seperti yang tercantum di bawah ini.
Toleransi : Via Positiva
Pertama, toleransi mengasumsikan adanya pluralitas (perbedaan) keyakinan/pandangan. Pluralitas itu given (terberi). Fakta pluralitas, mengharuskan adanya sikap yang toleran. Jika tidak ada pluaralitas, maka toleransi tidak diperlukan. Namun karena ada pluralitas, maka toleransi merupakan sebuah keharusan.
Kedua, sasaran atau arah dari sikap yang toleran adalah orangnya (penganut keyakinan/pandangan tertentu). Kita bersikap menerima, menghargai, menghormati, dan memperlakukan setiap orang sebagaimana halnya kita ingin dihargai, dihormati, dan diterima oleh orang lain, terlepas dari keyakinan atau pandangan apa yang dianut oleh orang yang bersangkutan.
Ketiga, toleransi mengakui bahwa setiap keyakinan atau pandangan sah (valid) untuk dianut. Setiap pandangan memiliki argumen-argumen yang sah (valid) dan karena itu, setiap pandangan harus diakui keabsahan atau validitasnya.
Toleransi : Via Negativa
Pertama, toleransi mengakui fakta pluralitas namun tidak berarti bahwa pandangan-pandangan yang plural itu memiliki nilai kebenaran yang sama. Dalam tulisan terdahulu, saya sudah memperlihatkan bahwa validitas adalah properti argumen, sedangkan soundness adalah properti dari argumen maupun proposisi-proposisi yang ada di dalam argumen tersebut (baca di sini). Setiap argumen, sejauh dikonstruksi dengan baik sehingga kesimpulannya diharuskan oleh premis-premisnya, maka ia harus diterima sebagai argumen yang valid.
Semua pandangan dapat memiliki hal ini. Itulah sebabnya semua pandangan dapat diterima sebagai pandangan yang memiliki argumen-argumen yang sah. Tetapi, kita harus membedakan antara validitas dan kebenaran. Perihal setiap pandangan itu memiliki argumen-argumen yang valid, tidak serta merta berarti bahwa setiap pandangan itu benar!
Kedua, keharusan untuk bersikap toleran terhadap setiap orang, tidak berarti keharusan untuk setuju dengan keyakinan atau pandangan dari orang-orang yang bersangkutan. Perdebatan atau paling tidak perbedaan pendapat dapat saja atau bahkan tidak terhindarkan untuk terjadi, karena memang kita tidak harus menerima setiap pandangan itu sebagai pandangan yang benar.
Implikasi-implikasi
Berdasarkan elaborasi di atas, saya akan menarik beberapa implikasi yang terlintas dalam benak saya. Artinya, bagian ini tidak memuat semua implikasi yang mungkin dapat ditarik dari elaborasi di atas.
Anda bisa menambahkannya sendiri dengan mengacu kepada elaborasi terhadap definisi toleransi di atas.
Pertama, Meyakini dan percaya bahwa keyakinan saya itu mutlak benar, tidak berarti bahwa saya tidak bersikap toleran terhadap penganut pandangan lain. Kebenaran, by definition, adalah sesuatu yang mutlak atau absolut. Akan menjadi sebuah intoleransi, bila saya menganggap pandangan saya mutlak benar lalu saya membunuh, membatasi, mengekang, mengebiri, hak orang lain untuk mempresentasikan pandangan yang diyakini benar olehnya. Sebuah adagium terkenal mengenai toleransi berbunyi demikian: Saya akan menentang pandanganmu dengan argumentasi-argumentasi terbaik yang dapat saya berikan, namun saya akan memberikan nyawa saya bagimu untuk membiarkan engkau menyatakan apa yang engkau yakini benar.
Ada orang yang kebablasan dalam memahami toleransi sehingga ia berpikir bahwa karena setiap pandangan itu sah atau valid yang karenanya ia harus bersikap toleran, maka ia tidak berhak percaya bahwa pandangannya sendiri adalah pandangan yang mutlak benar. Relativisme adalah pandangan yang "merusak-diri sendiri" (self-defeating).
Kedua, membatasi atau mengekang adanya perdebatan atau diskusi yang sehat mengenai keyakinan-keyakinan yang beragam, merupakan bukti penyimpangan pemahaman terhadap toleransi itu sendiri (HARAP ADMIN KOMPASIANA MEMPERHATIKAN HAL INI; bnd. peraturan no. 9 di Kompasiana).
Yang harus dihindari atau ditiadakan adalah diskusi yang tidak sehat atau yang tidak logis. Dan memang ada banyak fakta seperti ini. Tetapi, adanya fakta bahwa ada perdebatan yang tidak sehat dan atau tidak logis, lalu melarang atau mengekang adanya perdebatan itu sendiri, merupakan suatu reaksi yang kebablasan.
Reaksi seperti ini justru tidak logis, karena mengindikasikan hasty generalization bahwa setiap perdebatan [mengenai agama, misalnya] pasti tidak konstruktif. Lebih buruk lagi, pengekangan atau pembatasan itu mengekspresikan teologi anti-kritik yang sama sekali tidak patut dianut.
Itulah sebabnya, peran dari semua Kompasianer, terutama pemilik lapak sangat menentukan dalam hal mengarahkan jalannya diskusi atau perdebatan sehingga tidak menjurus ke arah diskusi atau perdebatan yang destruktif.
Ketiga, mengemukakan penolakan terhadap pandangan atau keyakinan lain atas dasar argumen-argumen yang logis bukan merupakan pelecehan atau penghinaan terhadap pandangan atau keyakinan yang bersangkutan. Penolakan itu baru boleh disebut pelecehan atau penghinaan, bila itu dilakukan dengan sekadar melontarkan klaim (mengenai klaim, baca di sini).
Setiap orang berhak memberikan penilaian terhadap keyakinan-keyakinan yang ada. Demikian juga, setiap orang memiliki hak jawab untuk setiap penilaian-penilaian yang dilontarkan terhadap keyakinannya. Lebih dari itu, keyakinan yang anti-kritik adalah keyakinan yang lemah.
Emas murni tidak pernah takut memasuki dapur perapian, bukan? Saya tidak pernah keberatan Anda mengkritik atau melontarkan klaim-klaim negatif terhadap keyakinan saya. Karena saya dengan sangat bahagia akan menanggapi klaim atau asersi Anda dengan argumen-argumen terbaik yang bisa saya kemukakan untuk Anda pertimbangkan.
Penutup
Anda mungkin mulai merasakan aura "pertarungan" yang terkesan diakomodasi dalam tulisan ini. Tetapi itu tidak seharusnya menakutkan. Justru, memiliki paradigma toleransi yang baik akan membuat kita tetap bersikap saling menghormati dan menghargai, meski kita harus beradu argumen di medan perdebatan..hahaha.."medan perdebatan"?
Yakinlah, itu hanya istilah saja koq..tidak seseram seperti yang Anda bayangkan! Intinya, mari secara bersama kita menyebarluaskan paradigma toleransi yang sehat di tengah-tengah fakta pluralitas yang tak dapat kita sangkali keberadaannya. Salam Kompasiana; Salam Toleransi. (Sekretaris RW.13)
Sumber : http://www.kompasiana.com/nararya1979/sekali-lagi-mengenai-toleransi-via-positiva-dan-via-negativa_5530199e6ea83418278b457a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar