Sabtu, 16 April 2016

Kumpulkan Kembali Kapas-Kapas Itu!

Berhati-hatilah menjaga lidah karena ketajamannya bisa melebihi pedang, bahkan bisa mematikan kehidupan seseorang sedangkan nyawa masih melekat di badan. Fitnah yang ditimbulkan lidah adalah lebih kejam dari pembunuhan, hal ini sudah sering kali kita dengar. Dan kultum yang aku ikuti di masjid Asy- Syifa bada’ sholat Dzuhur siang itu kembali menyadarkanku, bukan saja dasyatnya efek yang ditimbulkan fitnah, tapi juga betapa sulitnya menebus kesalahan, memulihkan nama baik dan hak-hak kehidupan mereka yang menjadi korban.

Adalah si Fulan, yang karena rasa iri dan dengkinya kepada seorang tokoh terkemuka, kemudian tega menfitnah sang tokoh. Dalam waktu sekejap, fitnah terhadap sang tokoh menyebar hingga ke pelosok desa, bersambung dari mulut warga yang satu ke warga yang lainnya. Terlebih orang yang menjadi korban fitnah ini adalah orang yang selama ini terpandang, memilki pengaruh di masyarakatnya.

Kabar fitnah yang menghebohkan akhirnya sampai ke telinga sang tokoh, termasuk siapa yang pertama kali menyebarkan berita tidak benar ini. Tidak terpancing emosi, sebaliknya sang tokoh tenang-tenang saja menanggapi berita miring tentang dirinya yang kini menjadi perbincangan hampir seluruh warga di setiap tempat dan pertemuan. Ia yakin bahwa kebenaran akan menemukan jalannya, siapa yang berdusta akan terbongkar kedoknya, hanya tinggal menunggu waktunya saja.

Jumat, 15 April 2016

Karena Sesal Tak Pernah Di Awal

Menyesal tak pernah di awal
Slalu saja hadirnya belakangan
Setelah terjadi barulah sadar
Ku menyesal….*


Sebuah lagu yang mengalun dari salah satu komputer di ruang kerjaku, membawa ingatanku pada kejadian yang dialami si Fulan, enam bulan yang lalu. Dibanding teman dan tetangga, dalam mencari pekerjaan si Fulan termasuk beruntung. Baru dua minggu merantau di Tangerang, Fulan langsung mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan otomotif milik pengusaha asal Jepang. Namun sayang, belum genap dua bulan, si Fulan dikeluarkan dari perusahaan tempatnya bekerja justru ketika rasa betah mulai ia rasakan.

Berawal dari pertemuan tak sengaja dengan teman sekelasnya di salah satu pusat perbelanjaan, Fulan kemudian mendapatkan sebuah pekerjaan melalui bantuan sebuah yayasan penyalur tenaga kerja. Sesuai bidang keahlian yang ia miliki, Fulan ditempatkan di bagian produksi.

Perbuatan Khianat adalah Penyebab Kesulitan Hidup

Ada satu jenis lagi perbuatan yang menyebabkan kesulitan hidup di dunia bahkan di akhirat yaitu ; KHIANAT

Pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menyaksikan bagaimana orang-orang yang berkhianat  koruptor, manipulator (dsb)  dengan jabatan yang telah diamanahkan bangsa kepadanya di nodai oleh suatu perbuatan khianat terhadap tugas-tugasnya dan kekuasaan yang dipegangnya. Para pemegang amanah itu tidak menjalankan amanat sebaik-baiknya tetapi tragisnya dilain pihak mereka terus berusaha mempertahankan amanat yang diberikan kepadanya dengan berbagai cara, Walhasil ketika perbuatan khianat itu terbuka hijabnya yang selama ini tertutupi, maka tidak saja dirinya yang hancur karena malu, hilang martabat dan hartanya, hancur pula perasaan keluarga dan orang-orang disekelilingnya.

Allah berfirman :
“ Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad ) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui  (Al Anfaal : 27)

Cara Meningkatkan Iman Agar Senantiasa Kokoh

Sepanjang perjalanan hidup, setiap muslim pasti pernah mengalami pasang surut dalam hal keimanan, adakalanya ia begitu taat dalam melaksanakan amal sholeh, shalat berjamaahnya senantiasa terjaga, shaum senin kamis tak pernah ketinggalan, dan qiyamullaillnyapun senantiasa ia tegakkan disetiap malamnya.

Namun beriringnya waktu dan derasnya bisikan kemaksiatan, terkadang ibadah yang senantiasa ia kerjakan tersebut mulai mengendur, bahkan ada yang sampai pada taraf terpuruk dimana ia mulai meninggalkan satu persatu dan ini seburuk-buruknya keimanan. Karena itulah penting sekali bagi setiap muslim untuk menjaga keimanannya agar senantiasa kokoh.

Berbicara tentang keimanan, maka pengertian iman itu sendiri secara bahasa bermakna percaya, sedangkah secarah istilah, iman bermakna membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam bentuk perbuatan. Ketiga unsur iman ini harus dimiliki oleh seorang muslim dan baru dikatakan sebagai keimanan yang sempurna bila terkumpul ketiganya. Karena seseorang yang hanya mengimani di dalam hati saja tanpa dibuktikan dengan amal maka imannya tidaklah sempurna, seperti orang yang mengimani bahwa shalat lima waktu adalah hukumnya wajib namun ia tidak membuktikan keimanannya dengan tidak mau mengerjakan shalat maka menandakan imannya tidak sempurna, bahkan bisa menyebabkan batalnya keislamannya sehinga bisa menjatuhkannya kepada kekufuran.

Iman itu sendiri terkadang bisa naik dan terkadang bisa turun, hal ini senada dengan apa yang di khabarkan oleh Allah Azza wa Jalla.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya). [al-Anfâl:2]

Kemudian Sahabat Abu ad-Dardâ` Uwaimir al-Anshâri Radhiyallahu anhu berkata:

الإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

Iman itu bertambah dan berkurang

Pengertian Agama Islam

Islam adalah satu-satunya agama yang diturunkan dan disyariatkan Allah subhanahu wa ta’ala serta satu-satunya agama yang diakui dan diterima-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menerima agama selainnya, dari siapapun, dimanapun dan sampai kapanpun juga.


“Sesungguhnya Agama ( yang diridhai ) di sisi Allah hanyalah Islam “(QS.Ali-Imran :19)

Islam berarti penyerahan diri kepada Allah dengan beriman dan bertauhid kepadaNya serta mengikuti syariatNya yang dibawa oleh para rosulNya.

Syaykh Muhammad al-Tamīmiy menambahkan asas makna Islam ini menjadi 3 hal, yang diistilahkannya dengan tawhīd, ta`at dan barā`ah dari syirik, dimana dia berkata:

( اَلإِسْلاَمُ هُوَ اْلاِسْتِسْلاَمُ للهِ بِالتَّّْوْحِيْدِ وَ اْلاِنْقِيَادُ لَهُ بِالطَّاعَةِ وَ الْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ )

Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk dan patuh kepadaNya dengan keta`atan serta membebaskan diri (bara`ah) dari syirik

Mengapa Kita Memilih Gereja Katolik

Pertanyaan berikutnya setelah kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan

Dalam tulisan terdahulu, kita telah membahas bahwa kepercayaan kepada satu Tuhan adalah sesuatu yang sangat logis/ masuk akal. Setelah kita percaya kepada Tuhan yang satu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sudah selayaknya kita juga percaya kepada Yesus Kristus[1], Putera Allah yang menjelma menjadi manusia. Tahap selanjutnya adalah: setelah kita percaya kepada Yesus, berarti kita menjadi pengikut Yesus dan menjadi seorang Kristen. Namun pertanyaannya sekarang, Kristen yang mana?

Pencarian kebenaran harus lebih tinggi daripada penghargaan dan perasaan pribadi

Pertanyaan di atas menjadi penting  di zaman sekarang ini, mengingat bahwa dewasa ini ada begitu banyak tipe kekristenan yang dilihat dari banyaknya macam gereja. Untuk begitu saja menerima kekristenan tanpa meneliti terlebih dahulu tentang Gereja mana yang sebenarnya didirikan oleh Yesus Kristus, adalah menempatkan diri sendiri dan perasaan diri sendiri lebih tinggi daripada kebenaran.[2] Maka, kerap kali kita mendengar pernyataan-pernyataan seperti berikut ini:
  • Saya senang ke gereja ini, karena gereja ini umatnya begitu ramah, musiknya juga bagus sekali.
  • Saya merasa bahwa gereja ini diberkati oleh Roh Kudus, karena saya merasakan bahwa kuasa Roh Kudus hadir di gereja tersebut.
  • Saya merasakan bahwa pembawa firmannya begitu penuh dengan Roh Kudus, sehingga dapat menyentuh hatiku.
  • Saya tidak dapat berkembang di gereja A, sehingga saya harus mencari gereja yang membuat saya berkembang.
  • Dan begitu banyak pernyataan-pernyataan yang lain.
Kalau kita meneliti pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, bukankah semuanya berfokus kepada “saya?” Padahal, dalam pencarian kebenaran, seharusnya, fokus kita bukan kepada diri sendiri, tetapi kepada kebenaran, yang akhirnya mengarahkan kita kepada Sang Kebenaran itu sendiri,[3] yaitu Yesus Kristus. Dengan kata lain,  kita menempatkan kebenaran di atas kepentingan dan perasaan pribadi.

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 5 – Selesai)

Gereja Katolik, tidak pernah populer, tetapi selalu menarik

Di dunia yang dipenuhi kehidupan sekuler, dan banyak aliran agama bermunculan, kita melihat banyak orang mencari kebenaran yang lebih bersifat tetap dan tidak terbawa arus. Banyak dari mereka tidak pernah menyangka bahwa pencarian tersebut akan berakhir di Gereja Katolik.

Gereja Katolik memang tidak pernah populer, kita tidak akan jadi terkenal dengan menjadi orang Katolik yang setia. Namun betapapun sulit penerapan pengajaran Gereja Katolik karena itu akan menuntut perubahan hidup, banyak orang merasa tertarik pada Gereja. Mereka mendengarkan dengan hormat pengajaran Paus dan para uskup pembantunya, meskipun mereka mengakui bahwa diperlukan perjuangan untuk menerapkan kebenaran tersebut di dalam hidup sehari-hari.

Ketertarikan akan Gereja juga nampak pada sejarah Gereja Katolik yang menampilkan kehidupan para kudus. Siapapun akan mengakui bahwa pasti ada sesuatu yang istimewa dan ‘ilahi’ pada Gereja Katolik yang dapat menghasilkan orang-orang kudus, seperti Santo Agustinus, Santo Benediktus, Santo Franciscus Asisi, dan Ibu Teresa.

Di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan kota di manapun di dunia, kehadiran gereja Katolik juga memberi nuansa tersendiri. Orang yang bukan Katolik-pun bisa merasakan kehadiran “Sang Ilahi” yang berada di dalam bangunan gereja Katolik. Kehadiran Yesus Kristus dalam tabernakel kudus di dalam setiap bangunan gereja Katolik, juga menarik banyak perhatian orang, seperti halnya yang secara khusus terlihat dalam Gereja Basilika Santo Petrus di Roma, Basilika Perawan yang Dikandung Tak Bernoda di Lourdes, dan tentu, di bangunan gereja Katedral Jakarta.

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 4)

Allah adalah Kasih, maka Ia menghendaki semua manusia mencapai kebahagiaan.

Allah ingin agar kita semua berbahagia. “Aku datang,” kata Yesus, “supaya kamu mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” (Yoh 10:10). Pertanyaannya sekarang, apa itu kebahagiaan atau kelimpahan hidup? Banyak orang mungkin mengartikan kebahagiaan dengan kelimpahan materi. Namun sesungguhnya, bukan itu yang dijanjikan Yesus, walaupun Ia dapat saja karena kebijaksanaanNya menganugerahkan berkat-berkat kepada kita. Namun, jika kita berpikir bahwa Yesus datang untuk memberikan kelimpahan materi, artinya kita tidak sungguh-sungguh memahami arti pengorbanan Yesus di kayu salib bagi kita. Yesus memberikan DiriNya untuk disalibkan untuk menghapuskan dosa-dosa kita yang memisahkan kita dari Allah.[1] Dengan demikian, kita didamaikan dengan Allah, kita dikuduskan,(lihat artikel: Apa itu Kekudusan?), dan bersatu denganNya, dan dengan sesama saudara seiman. Persatuan dengan Allah inilah yang memberikan kita kelimpahan hidup. Dengan bersekutu dengan Allah, sumber dan empunya segala sesuatu, kita tidak akan berkekurangan. Kebahagiaan semacam ini lebih dari segala kelimpahan dunia dan tak dapat diberikan oleh dunia.

Bagaimana persatuan dengan Allah dan saudara-saudari seiman dinyatakan?

Persatuan kita dengan Allah dimulai dengan Pembaptisan, yang dilanjutkan dengan pertumbuhan spiritual melalui doa, baik doa pribadi maupun doa bersama, keikutsertaan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama Ekaristi, dan penerapan kebajikan dalam perbuatan –perbuatan kasih (Lihat artikel: Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus). Dengan ketiga hal inilah yang mengacu pada kekudusan, kita bertumbuh dalam persatuan kita dengan Allah dan sesama.

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 3)

Pertanyaan

Pernahkah anda bertanya dalam hati, jika Tuhan menginginkan sebanyak mungkin orang masuk ke surga, bagaimanakah Dia menyampaikan kebenaran tersebut, supaya orang-orang dapat mengerti? Berikut ini adalah pengajaran Gereja yang mencerminkan kebaikan dan kebijaksanaan Allah.

Allah adalah Kasih, maka Ia menghendaki semua manusia selamat

Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8), maka Allah menghendaki semua manusia diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4) yang diperoleh dengan mengenal Yesus Kristus, yang menjadi kepenuhan wahyu Allah itu sendiri.[1] Untuk memenuhi kehendak Allah ini, Kristus kemudian memerintahkan pada para rasul supaya Injil yang telah dijanjikan melalui para nabi, yang digenapi olehNya dan disah-kanNya, dapat mereka wartakan kepada semua orang dan dengan demikian dapat dibagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka semua. Injil adalah sumber kebenaran yang menyelamatkan dan sumber ajaran moral.[2] Injil yang memuat kebenaran kasih Allah ini diturunkan kepada GerejaNya.

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 2)

Gereja Tanda Kasih Tuhan

Jika anda seorang perancang, entah itu arsitek, perancang busana, mesin, mobil ataupun program komputer, tentu pada saat anda merancang, anda sudah punya sebuah gambaran dalam pikiran anda tentang hasil akhir rancangan anda. Mungkin hal ini dapat membantu kita untuk memahami bagaimana Allah telah merencanakan tujuan akhir pada saat menciptakan dunia. Kita semua mengetahui bahwa manusia adalah mahluk terakhir yang diciptakan-Nya, yang menjadi paling sempurna dari antara mahluk hidup lainnya, yaitu tumbuhan dan hewan. Pada saat menciptakan manusia inilah, Allah telah merancang hasil akhir dari penciptaan tersebut, yaitu bahwa semua manusia akan dipersatukan dengan diri-Nya sendiri. Begitu dalamnya makna kasih Tuhan ini, hingga kita-pun sulit membayangkannya. Tetapi begitulah yang direncanakan Allah bagi kita, sehingga digenapi apa yang tertulis, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9, Yes 64:4). Ya, Tuhan bermaksud menjadikan kita bagian yang tak terpisahkan daripada-Nya, bersatu denganNya di dalam hidup Ilahi dan menikmati kebahagiaan bersamaNya tanpa akhir.

Persatuan inilah yang menjadi hakekat Gereja, maka benarlah jika dikatakan bahwa “dunia diciptakan untuk Gereja dan Gereja adalah tujuan segala sesuatu“.[1] Untuk tujuan ini, Allah telah mengirimkan Yesus Kristus Putera-Nya yang mengorbankan DiriNya demi menghapus dosa manusia, agar manusia dapat dikumpulkan di dalam Dia dalam suatu sarana yang dinamakan “Gereja”. Dengan demikian, Gereja tidak saja menjadi tujuan akhir hidup manusia tetapi juga sarana untuk mencapai tujuan itu (KGK 778, 824). Sungguh tak terbataslah kasih Tuhan dan tak ternilailah ‘harga’ yang telah dibayarNya demi terbentuknya Gereja! Di saat kita sampai pada pengertian inilah, kita akan memiliki rasa syukur dan hormat yang mendalam kepada Tuhan dan kepada Gereja yang didirikanNya.

Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 1)

Rangkaian tulisan tentang Gereja

 Bagian Pertama

  1. Gereja yang berlangsung sepanjang sejarah
  2. Empat tanda dari Gereja yang sejati
    1. Satu
    2. Kudus
    3. Katolik
    4. Apostolik
  3. Gereja sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
Bagian Kedua
  1. Gereja Tanda Kasih Tuhan
  2. Gereja sebagai tujuan akhir kehidupan manusia
  3. Gereja sebagai sarana untuk mencapai tujuan akhir hidup manusia:
    1. Kepemimpinan/ Struktur Gereja
    2. Sakramen- sakramen Gereja
      • Sakramen Pembaptisan
      • Sakramen Ekaristi
      • Sakramen Penguatan
      • Sakramen Pengakuan Dosa
      • Sakramen Perkawinan
      • Sakramen Tahbisan suci
      • Sakramen Urapan Orang Sakit
  4. Gereja sebagai Tanda Kasih Tuhan adalah tujuan akhir dan sarana untuk mencapai tujuan akhir tersebut.
Bagian Ketiga
  1. Gereja sebagai Tonggak Kebenaran menyampaikan kebenaran dan keutuhan rencana Keselamatan Allah.
  2. Kebenaran ini disampaikan oleh tiga unsur yang tak dapat dipisahkan, yaitu
    1. Tradisi Suci
    2. Kitab Suci
    3. Magisterium
Bagian Ke-empat
  1. Gereja sebagai Tanda Kasih Tuhan menjadi tanda persekutuan manusia dengan Allah dan dengan Para Kudus-Nya.
  2. Persekutuan ini dialami melalui tiga hal yang mengacu kepada ‘kekudusan’ yaitu,
    1. Doa
    2. Sakramen-sakramen Gereja
    3. Perbuatan- perbuatan kasih.
Bagian Ke-lima
Melihat begitu indahnya dan dalamnya pengajaran iman Katolik, maka tugas kita sebagai anggota Gereja Katolik adalah:
  1. Mempelajari iman Katolik
  2. Hidup sesuai dengan iman Katolik (=hidup kudus)
  3. Menyebarkan iman Katolik.

Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan?

Yesus Kristus, Allah yang menyatakan diri-Nya kepada manusia.

Setelah kita melihat pembuktian tentang keberadaan Tuhan yang Satu, maka sekarang kita akan meneliti tentang Tuhan, seperti yang diimani oleh agama-agama yang percaya akan satu Tuhan, yaitu: Kristen, Islam, dan agama Yahudi adalah tiga agama yang percaya akan satu Tuhan. Yang paling membedakan antara kedua agama monotheism yang lain dengan Kristen adalah figur “Yesus”. Dapat  dikatakan, bahwa agama Kristen bukanlah agama yang berdasarkan buku, namun berdasarkan sosok Pribadi, yaitu Yesus Kristus.
Untuk menjawab mengapa orang Kristen percaya kepada Yesus Tuhan, kita tidak bisa hanya mendasarkan argumen pada filosofi yang berdasarkan atas pemikiran manusia, sebab pikiran manusia itu terbatas sifatnya. Yesus, Tuhan yang dilahirkan sebagai manusia, tidak dapat diterangkan dengan pemikiran manusia semata, namun harus digabungkan dengan iman.[1] Filosofi dapat membantu untuk menerangkan bahwa iman itu adalah “hal yang sudah selayaknya”. Di sini kita dapat menggunakan “argument of fittingness“, maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang dinyatakan oleh Tuhan adalah memang sudah seharusnya atau selayaknya terjadi.

Siapakah Yesus sebenarnya?

Sebelum dunia(Alam semesta) diciptakan, yang ada hanyalah Allah (karena Allah adalah kekal).
Dan Allah telah menciptakan malaikat sebelum dunia diciptakan.
Dan iblis adalah malaikat yang telah jatuh dalam dosa (memberontak kpd Allah).

Apakah Yesus adalah Iblis? jawabannya jelas bukan.
Karena di dalam Injil jelas Yesus mengatakan bahwa Ia menggunakan Kuasa Allah Untuk mengusir setan bukan kuasa iblis.

Lukas 11 : 17-20
17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.
18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
19 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu.
20 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.


Apakah Yesus adalah malaikat ? jawabannya tetap bukan
karena di dalam Injil jelas dikatakan bahwa Yesus beberapa kali dilayani oleh malaikat-malaikat. Jika Yesus adalah malaikat , maka malaikat tidak akan melayani malaikat. Sebaliknya tugas malaikat adalah melayani Allah.

Siapakah Yesus Kristus?

Siapakah Yesus Kristus? Berbeda dengan pertanyaan “Apakah ada Allah?” jarang ada yang mempertanyakan apakah Yesus Kristus ada.

Pada umumnya Yesus dipandang sebagai seseorang yang pernah hidup di Israel sekitar 2000 tahun yang lalu. Perdebatan baru dimulai ketika topik mengenai identitas Yesus didiskusikan.

Hampir setiap agama besar berpandangan bahwa Yesus adalah seorang nabi, guru yang baik atau orang yang saleh. Masalahnya, Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus lebih dari sekedar seorang nabi, guru yang baik atau orang yang saleh.

C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity menulis, “Saya berusaha mencegah orang mengatakan hal-hal yang bodoh yang biasanya orang katakan mengenai Dia [Yesus Kristus]: ‘Saya siap menganggap Dia sebagai seorang pengajar moral yang agung, tapi saya tidak menerima klaim bahwa Dia adalah Allah.’ Ini adalah sesuatu yang kita tidak boleh katakan.’

Jika seorang manusia biasa mengucapkan apa yang dikatakan oleh Yesus, tidak mungkin dirinya merupakan seorang pengajar moral yang agung. Kalau ia bukan orang gila – yang mungkin setara dengan orang yang mengatakan dirinya telur rebus – pastilah ia Iblis dari neraka.

Natal, Pluralisme, dan Toleransi Beragama



Sebuah photo spanduk besar dari partai X mampir ke dinding laman Facebook saya. Isinya mengajak perayaan natal bersama dengan pembicara Pdt. Gilbert Lumoindong, S.Th. Entah benar atau tidak photo itu, namun kandungannya menarik untuk dicermati. Mengapa? Jika ajakan perayaan itu datang dari gereja, saya mafhum. Sebab itu berarti ajakan kepada jamaat dari gereja tersebut untuk merayakan natal.

Namun, spanduk itu dari sebuah partai politik yang selama ini dikenal berbasis massa Islam, terutama kalangan Nahdiyin. Saya bertanya, apa yang telah terjadi. Inikah bentuk toleransi beragama yang diagungkan itu? Atau, justru pluralisme beragama telah masuk ke dalam sumsum partai-partai politik (berbasis massa) Islam?

Sebagai negara dengan aneka keyakinan, Indonesia menjunjung tinggi pluralisme; karena itu pula, kita mengenal semboyan Bhineka Tunggal Ika; beragam namun satu. Lalu, apakah hal demikian berlaku pula dalam kehidupan beragama kita: Anda (baca juga; partai Anda) adalah nasionalis sejati hanya dan apabila menjadi fasilitator, penggerak dan pendukung pada sebuah acara keagamaan orang lain.

Bersama Menyebarluaskan Paradigma Toleransi


Hari ini saya membaca tulisan yang sangat edukatif tetapi juga sangat persis menggambarkan situasi intoleransi yang cukup memprihatinkan di negeri ini (baca http://sierohanirw13bhccibiru.blogspot.co.id/2016/04/ya-ampun-anak-sd-pun-bermain-isu-sara.html).

Membaca tulisan tersebut, saya jadi terdorong untuk menulis mengenai hal ini. Saya memiliki dua orang putra (9 tahun dan 5 tahun). Tidak satu dua kali, ketika pulang kerja, mereka menghambur ke arah saya dengan wajah sedih. 

Di lingkungan tempat kami tinggal, saat bermain bersama anak-anak seusianya, anak-anak saya sering kali diejek-ejek dengan kata-kata yang tidak pantas. Mereka diejek dan dikatai karena keyakinan kami berbeda dengan mereka. 

Sebagai seorang ayah, seperti kebanyakan dari Anda tentunya, hati saya miris. Tetapi, saya berupaya sedapat mungkin mengajarkan mereka untuk mengabaikan dan tidak mencontohi hal-hal itu. Suka atau tidak suka, kita tidak dapat menghindari fakta bahwa ada orang-orang tua yang memang menanamkan kebencian terhadap mereka yang tidak sekeyakinan dengannya kepada anak-anak mereka. 

Ya Ampun, Anak SD Pun Bermain Isu SARA


Saya hanya bisa mengurut dada yang terasa sesak ketika mendengar si dede menceritakan kejadian yang dialami dalam interaksi dengan teman-teman di sekolahnya.

Ternyata murid-murid yang baru kelas empat SD itu sudah bermain-main dengan isu SARA. Si dede seringkali menjadi bahan ejekan teman-teman sekelasnya berkenaan dengan agama.

Tadinya si dede bersekolah di sekolah swasta dekat rumah dari TK sampai kelas tiga SD. Tapi karena biayanya yang dari tahun ke tahun semakin naik, akhirnya terpaksa dipindahkan ke sekolah negeri dekat rumah.

Cuma bertahan dua minggu. Karena si dede tidak tahan dengan suasana kelas yang sangat ribut, sehingga tidak bisa konsentrasi belajar. Sementara guru hanya bisa menenangkan sebisanya. Belum lagi guru sering meninggalkan kelas, sehingga anak-anak bisa keluar main sepeda. Padahal sedang jam pelajaran. Belum lagi kepala sekolahnya yang minta sejumlah uang sebagai biaya pindah.

Sekali Lagi mengenai Toleransi: Via Positiva dan Via Negativa


Saya sudah menulis sebuah artikel yang berisi ajakan untuk menyebarluaskan paradigma toleransi. Di dalamnya saya sudah membahas mengenai definisi dari toleransi (baca di sini). Namun, adalah perlu untuk sekali lagi mencantumkan definisi itu di sini. Setelah itu, saya akan mengelaborasi definisi itu dalam dua kategori: via positiva (toleransi adalah...) dan via negativa (toleransi bukanlah...).

Toleransi : Paham bahwa setiap orang sah untuk menganut keyakinan atau pandangan tertentu, terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan atau pandangan yang bersangkutan.

Berdasarkan definisi di atas, saya akan mengemukakan elaborasinya seperti yang tercantum di bawah ini. 

Toleransi : Via Positiva 

Pertama, toleransi mengasumsikan adanya pluralitas (perbedaan) keyakinan/pandangan. Pluralitas itu given (terberi). Fakta pluralitas, mengharuskan adanya sikap yang toleran. Jika tidak ada pluaralitas, maka toleransi tidak diperlukan. Namun karena ada pluralitas, maka toleransi merupakan sebuah keharusan. 

Kedua, sasaran atau arah dari sikap yang toleran adalah orangnya (penganut keyakinan/pandangan tertentu). Kita bersikap menerima, menghargai, menghormati, dan memperlakukan setiap orang sebagaimana halnya kita ingin dihargai, dihormati, dan diterima oleh orang lain, terlepas dari keyakinan atau pandangan apa yang dianut oleh orang yang bersangkutan.

Pluralisme Agama dan Redefinisi Toleransi Beragama


Hubungan Teologis Antar-Agama Dalam ranah teologi agama-agama (theology of religions), dikenal tiga posisi teologis menyangkut hubungan antar-agama, yaitu: eksklusivisme (partikularisme), inklusivisme, dan (pluralisme). 


Sebenarnya, masih ada variasi lain. Misalnya, saat mengikuti mata kuliah theology of religions, profesor saya menamai posisi teologis yang dianutnya dalam konteks ini dengan sebutan "open particularism" (partikularisme terbuka). Menurut beliau, posisi partikularisme terbuka berada di antara partikularisme/eksklusivisme dan inklusivisme. 

Demikian pula di antara inklusivisme dan pluralisme, ada sebuah posisi "tengah" yang disebut "inklusivisme-pluralisme" (inclusivism-pluralism).

Pemimpin Islami Yang Berjiwa Pluralis

Terdiri dari masyarakat yang majemuk memang menjadi fenomena tersendiri yang unik yang mesti dihadapi suatu negara. Tidak jarang akibat dari keanekaragaman itulah perpecahan tidak jarang terjadi antara golongan masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain yang notabene mereka adalah masih berada dalam ruang lingkup dan berstatus warga negara yang sama. Civil War yang terjadi di Amerika Serikat dan China pada masa lalu ataupun kejadian-kejadian perang antar suku di negara-negara Afrika yang masih sering terjadi sampai dengan saat ini menjadi sebagian kecil contoh yang ada dimana masih banyak lagi kejadian-kejadian yang lain yang memberi bukti bahwa sangat sulit memang mengatur masyarakat di suatu negara yang majemuk dimana berasal dari latar belakang budaya yang berbeda-beda.

Indonesia merupakan negara dimana penduduknya terdiri dari masyarakat yang sangat majemuk dimana berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya dan bahasa yang beraneka ragam termasuk agama. Di satu sisi, Indonesia juga merupakan negara dimana umat muslim menempati posisi sebagai kaum mayoritas dan jumlahnya paling banyak dibanding penganut agama yang lain. Jumlah mayoritas suatu golongan yang dikelilingi keanekaragaman golongan minoritas yang lain itulah yang kadang justru menjadi permasalahan klasik yang sangat rumit yang terjadi di Indonesia detik ini. Tidak tercatat lagi telah banyak gesekan dengan latar belakang perang antar suku ataupun agama yang terjadi di Indonesia dari sejak zaman awal kemerdekaan sampai dengan saat ini. Kesadaran akan jiwa nasionalis yang ada pun tanpa kita sadari hanya sekedar semboyan tanpa ada implementasi yang jelas. Semangat mengesampingkan perbedaan hanya menjadi “bahan pelajaran” yang cuma kita terima di Sekolah Dasar dan ketika tumbuh dewasa maka yang terjadi adalah keegoisan masing-masing golongan bahwa golongan mereka lah yang lebih unggul dari golongan lain dan itulah yang terjadi di Indonesia dan lebih parah lagi diajarkan oleh orang-orang yang memiliki notabene memiliki tingkat intelektual yang lebih baik dibanding yang lain dan masyarakat meyakini bahwa mereka merupakan individu yang pantas untuk dijadikan panutan

Toleransi dan Pluralisme

Bukanlah rahasia umum jika kita membaca surat kabar mengenai penutupan gedung ibadah, pembakaran gedung ibadah hingga pembunuhan terhadap seorang tokoh agama yang baru-baru ini terjadi di Poso.

Mungkin beberapa golongan radikalisme agama merasa senang karena tujuannya sudah tercapai, sedangkan di lain pihak beberapa orang merintih sedih akibat perbuatan keji ini. Kadang saya berpikir, apakah memang di dalam semua ajaran agama mengajarkan demikian? Apa yang dimaksud dengan ajaran cinta kasih di dalam ajaran agama? Apakah cinta kasih itu bukan sifatnya universal sehingga orang di luar agamanya patut dibunuh, dibenci dengan atas nama Tuhan? Apakah agama begitu kejamnya mengajarkan demikian kepada umatnya? Apakah memang Mohammad, Yesus Kristus, Sidharta Gautama mengajarkan perbuatan demikian?

Sebuah cerita singkat di Irak yang berjudul “Membakar Sorga”, juga bercerita mengenai keinginan seorang pemuda yang ingin membakar sorga lantaran melihat orang-orang di sekitarnya saling membunuh demi sebuah Sorga. Cerita ini juga mempertanyakan mengenai sebenarnya apa sih yang diajarkan oleh agama sesungguhnya?